BERBUAT BAIK KEPADA ORANG LAIN
Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad. saw:
"Dan, bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi dan senja hari , dengan mengharap keridhaan-Nya." (AlKahfi: 28) Allah juga telah berfirman:
"Dan, janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan -Nya." (AlAn'am: 52). Dari Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ''Kami pernah bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebanyak enam orang, lalu orang-orang musyrik berkata, 'Usirlah orang-orang yang berani lancang terhadap kami, yaitu orang-orang lemah yang engkau jadikan teman bergaul dan yang engkau dekati. Kami tidak suka duduk bersama mereka. Maka buatlah bagi kami satu pertemuan khusus bagi kami dan bagimu'".
Maka ada perasaan yang tidak enak, muncul di dalam hati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam karena ucapan tersebut, padahal beliau sangat ingin untuk memberi petunjuk kepada mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini. Sudah terlalu lumrah jika para pemimpin, penguasa, orang-orang terhormat, orang-orang kaya, orang-orang yang biasa hidup mewah dan para pejabat memiliki kesombongan, pembangkangan dan tidak mau menerima hak bagi orang lain untuk ikut bergabung dalam kelompok mereka. Hal ini sudah biasa terjadi dalam umat mana pun. Setiap penghalang yang menghadang dakwah para rasul dalam menyebarkan kebenaran tentu dikaitkan dengan keberadaan mereka. Hal ini bisa diketahui dengan menyimak kandungan Al-Qur'an. Sedangkan orang-orang yang lemah, fakir dan miskin justru orang-orang yang lebih dahulu mengikuti kebenaran dan memenuhi panggilan dakwah para rasul. Dan, Allah lebih mengetahui siapa yang mendapatkan hidayah ketimbang orang-orang yang tidak berhak menerimanya. Firman-Nya: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus." (Al-An'am: 39) Firman-Nya yang lain:
"Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orangorang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (Al-An'arn,: 53). Allah tidak melihat gambar, penampakan, indahnya tubuh dan harta benda, tetapi Dia hanya melihat kepada hati dan amal sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih. Maka dari itu Heraklius (pemimpin bangsa Romawi) pernah bertanya kepada Abu Sofyan, "Siapakah yang mengikuti nabi tersebut? Apakah mereka itu para pemimpin ataukah orang-orang yang lemah?" Maka Abu Sofyan menjawab, "Bahkan mereka itu adalah orang-orang yang lemah."
Heraklius berkata, "Begitulah memang pengikut para rasul." Allah telah menyebutkan secara gamblang orang-orang Muslim yang lemah tidak hanya dalam satu ayat dari Al-Qur'an. Mereka disinggung-singgung di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Allah juga mengangkat kedudukan mereka, menyuruh hamba-hamba-Nya agar berbuat baik kepada mereka dan mengkhususkan dan mereka untuk mendapatkan saluran kebajikan dan kebaikan, menganjurkan hal itu serta menjanjikan pahala yang besar di sisi-Nya karena perbuatan tersebut. Firman-Nya: "Dan, perbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." Baqarah: 195). "Maka berikanlah hak kepada kerabat yang terdekat, demikian pula kepada fakir miskin dan ibnus-sabil." (Ar-Rum: 38). Dan Abdullah bin Anu. bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya RasulullahShallallahuAlaihi wa Sal-lam berkata: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Maka kasihanilah, siapa yang berada di bumi, niscaya yang berada di langit akan mengasihimu." (Ditakhrij Abu Daud dan At-Tirmidzy). Diriwayatkan pula dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
"Barangsiapa yang tidak mengasihi siapa yang di bumi, niscaya yang di langit juga tidak akan mengasihinya." (Rawi-rawinya tsiqat). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Kasihanilah siapa yang di bumi, niscaya siapa yang di langit akan mengasihimu." Hal ini diriwayatkan secara marfu' dan mauquf. Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, berkata, "Rasulullah Shallallahu Alai hi wa Sallam berkata:
"Barangsiapa yang tidak mengasihi manusia, niscaya Allah. tidak akan mengasihinya." (Ditakhrij At-Tirmidzy). Dalam sebuah hadits juga disebutkan: "Mereka bertanya, 'Apakah kami juga memperoleh pahala karena mengasihi hewan wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya. Dalam setiap hati terdapat kesejukan yang baik."Hal ini dikuatkan lagi dengan kisah tentang wanita pelacur, yang kemudian dosa-dosanya diampuni Allah, karena dia mengasihi seekor anjing yang dilihatnya sedang menjulur-julurkan lidah dan memakan debu karena kehausan. Telah disebutkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu adalah orang yang lebih mapan daripada yang lain dalam kehidupan materielnya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: "Dan, apakah kamu bisa mendapatkan pertolongan dan rizki kalau bukan karena orang-orang lemah di antara kamu?" Juga telah disebutkan dalam hadits shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
"Barangsiapa yang berada dalam pertolongan saudaranya, maka Allah berada dalam, pertolongannya." Hal ini bersifat umum, di mana pertolongan tersebut berlaku untuk setiap orang Muslim, dan yang lebih khusus adalah pertolongan terhadap orang-orang yang lemah di antara mereka, seperti janda, anak yatim dan orang miskin. Berapa banyak Allah menyingkirkan bencana dan memberi perlindungan dari keburukan serta kejadian yang mengerikan bagi orang-orang yang berbuat dan mengasihi orang-orang yang lemah maupun anak-anak yatim. Sebab akan berbuat baik kepada orang-orang yang juga mau berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Di samping itu, Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang telah beramal. Maka barangsiapa yang memperlakukan hamba-hamba Allah dengan penuh kasih sayang dan kebajikan, serta berbuat yang ma'ruf, maka Allah pun akan berbuat seperti itu pula, bahkan Dia akan melipatgandakan pahala dengan sepuluh kebaikan yang serupa dengan itu. Wahai saudara-saudaraku! Barangsiapa yang ingin selamat dari neraka dan menghendaki ketinggian kedudukan di akhirat, maka hendaklah dia bersiap-siap menghadap Allah dengan melewati pintu kebaikan terhadap orang-orang yang lemah, fakir miskin, wanita-wanita janda, anak-anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan. Hendaklah dia berbuat baik kepada mereka menurut kadar kemampuannya. Sebab Allah selalu dekat dengan orang yang hatinya dilanda kesusahan, mengasihi orang yang juga mengasihi hamba-hamba -Nya. Maka janganlah dia meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walau itu hanya sekedar kata-kata yang manis dan baik. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata dalam sebuah hadits shahih: "Janganlah sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walau engkau menghadapi saudaramu dengan rona muka yang berseri."
"Dan, bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi dan senja hari , dengan mengharap keridhaan-Nya." (AlKahfi: 28) Allah juga telah berfirman:
"Dan, janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan -Nya." (AlAn'am: 52). Dari Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ''Kami pernah bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebanyak enam orang, lalu orang-orang musyrik berkata, 'Usirlah orang-orang yang berani lancang terhadap kami, yaitu orang-orang lemah yang engkau jadikan teman bergaul dan yang engkau dekati. Kami tidak suka duduk bersama mereka. Maka buatlah bagi kami satu pertemuan khusus bagi kami dan bagimu'".
Maka ada perasaan yang tidak enak, muncul di dalam hati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam karena ucapan tersebut, padahal beliau sangat ingin untuk memberi petunjuk kepada mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini. Sudah terlalu lumrah jika para pemimpin, penguasa, orang-orang terhormat, orang-orang kaya, orang-orang yang biasa hidup mewah dan para pejabat memiliki kesombongan, pembangkangan dan tidak mau menerima hak bagi orang lain untuk ikut bergabung dalam kelompok mereka. Hal ini sudah biasa terjadi dalam umat mana pun. Setiap penghalang yang menghadang dakwah para rasul dalam menyebarkan kebenaran tentu dikaitkan dengan keberadaan mereka. Hal ini bisa diketahui dengan menyimak kandungan Al-Qur'an. Sedangkan orang-orang yang lemah, fakir dan miskin justru orang-orang yang lebih dahulu mengikuti kebenaran dan memenuhi panggilan dakwah para rasul. Dan, Allah lebih mengetahui siapa yang mendapatkan hidayah ketimbang orang-orang yang tidak berhak menerimanya. Firman-Nya: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus." (Al-An'am: 39) Firman-Nya yang lain:
"Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orangorang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (Al-An'arn,: 53). Allah tidak melihat gambar, penampakan, indahnya tubuh dan harta benda, tetapi Dia hanya melihat kepada hati dan amal sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih. Maka dari itu Heraklius (pemimpin bangsa Romawi) pernah bertanya kepada Abu Sofyan, "Siapakah yang mengikuti nabi tersebut? Apakah mereka itu para pemimpin ataukah orang-orang yang lemah?" Maka Abu Sofyan menjawab, "Bahkan mereka itu adalah orang-orang yang lemah."
Heraklius berkata, "Begitulah memang pengikut para rasul." Allah telah menyebutkan secara gamblang orang-orang Muslim yang lemah tidak hanya dalam satu ayat dari Al-Qur'an. Mereka disinggung-singgung di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Allah juga mengangkat kedudukan mereka, menyuruh hamba-hamba-Nya agar berbuat baik kepada mereka dan mengkhususkan dan mereka untuk mendapatkan saluran kebajikan dan kebaikan, menganjurkan hal itu serta menjanjikan pahala yang besar di sisi-Nya karena perbuatan tersebut. Firman-Nya: "Dan, perbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." Baqarah: 195). "Maka berikanlah hak kepada kerabat yang terdekat, demikian pula kepada fakir miskin dan ibnus-sabil." (Ar-Rum: 38). Dan Abdullah bin Anu. bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya RasulullahShallallahuAlaihi wa Sal-lam berkata: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Maka kasihanilah, siapa yang berada di bumi, niscaya yang berada di langit akan mengasihimu." (Ditakhrij Abu Daud dan At-Tirmidzy). Diriwayatkan pula dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
"Barangsiapa yang tidak mengasihi siapa yang di bumi, niscaya yang di langit juga tidak akan mengasihinya." (Rawi-rawinya tsiqat). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Kasihanilah siapa yang di bumi, niscaya siapa yang di langit akan mengasihimu." Hal ini diriwayatkan secara marfu' dan mauquf. Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, berkata, "Rasulullah Shallallahu Alai hi wa Sallam berkata:
"Barangsiapa yang tidak mengasihi manusia, niscaya Allah. tidak akan mengasihinya." (Ditakhrij At-Tirmidzy). Dalam sebuah hadits juga disebutkan: "Mereka bertanya, 'Apakah kami juga memperoleh pahala karena mengasihi hewan wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya. Dalam setiap hati terdapat kesejukan yang baik."Hal ini dikuatkan lagi dengan kisah tentang wanita pelacur, yang kemudian dosa-dosanya diampuni Allah, karena dia mengasihi seekor anjing yang dilihatnya sedang menjulur-julurkan lidah dan memakan debu karena kehausan. Telah disebutkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu adalah orang yang lebih mapan daripada yang lain dalam kehidupan materielnya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: "Dan, apakah kamu bisa mendapatkan pertolongan dan rizki kalau bukan karena orang-orang lemah di antara kamu?" Juga telah disebutkan dalam hadits shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
"Barangsiapa yang berada dalam pertolongan saudaranya, maka Allah berada dalam, pertolongannya." Hal ini bersifat umum, di mana pertolongan tersebut berlaku untuk setiap orang Muslim, dan yang lebih khusus adalah pertolongan terhadap orang-orang yang lemah di antara mereka, seperti janda, anak yatim dan orang miskin. Berapa banyak Allah menyingkirkan bencana dan memberi perlindungan dari keburukan serta kejadian yang mengerikan bagi orang-orang yang berbuat dan mengasihi orang-orang yang lemah maupun anak-anak yatim. Sebab akan berbuat baik kepada orang-orang yang juga mau berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Di samping itu, Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang telah beramal. Maka barangsiapa yang memperlakukan hamba-hamba Allah dengan penuh kasih sayang dan kebajikan, serta berbuat yang ma'ruf, maka Allah pun akan berbuat seperti itu pula, bahkan Dia akan melipatgandakan pahala dengan sepuluh kebaikan yang serupa dengan itu. Wahai saudara-saudaraku! Barangsiapa yang ingin selamat dari neraka dan menghendaki ketinggian kedudukan di akhirat, maka hendaklah dia bersiap-siap menghadap Allah dengan melewati pintu kebaikan terhadap orang-orang yang lemah, fakir miskin, wanita-wanita janda, anak-anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan. Hendaklah dia berbuat baik kepada mereka menurut kadar kemampuannya. Sebab Allah selalu dekat dengan orang yang hatinya dilanda kesusahan, mengasihi orang yang juga mengasihi hamba-hamba -Nya. Maka janganlah dia meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walau itu hanya sekedar kata-kata yang manis dan baik. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata dalam sebuah hadits shahih: "Janganlah sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walau engkau menghadapi saudaramu dengan rona muka yang berseri."