RUMAHKU ISTANAKU
Sebuah istana sudah pasti memiliki seorang raja dan permaisuri. Raja merupakan seorang pemimpin yang harus ditaati oleh seluruh anggota dalam kerajaan. Permaisuri harus selalu mendukung sang raja, tanpa dukungan permaisuri sudah pasti sang raja tidak dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik.
Kerajaan yang dimaksud bernama rumah tangga, dipimpin seorang raja yang bernama suami dan permaisuri yang bernama istri. Kepemimpinan sang rajalah yang akan menentukan kelangsungan sebuah rumah rangga. Baik buruknya sebuah kerajaan rumah rangga akan sangat tergantung pada kepemimpinan suami dan dukungan sang istri.
Kewajiban istri haruslah taat kepada suami, tetapi bukan ketaatan yang membabi buta. Ada rambu-rambu agar suami ditaati sang istri, yaitu ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketidaktaatan istri diperbolehkan dalam islam jika suami menyuruh kepada istri tetapi bententangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist, salah satunya sang istri tidak boleh taat dalam rangka bermaksiat. Pada hakekatnya ketaatan istri bukanlah kepada suami tetapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Suami sebagai seorang raja harus memiliki harga diri dan istri harus menghormati sang raja. Seorang istri hendaknya selalu menjaga perasaan suaminya, jika ada kekurangan pada diri sang suami janganlah dibesar-besarkan. Setiap orang pastinya memiliki kelebihan dan tak luput dari kekurangan. Meskipun dengan berbagai kekurangannya kita tetap harus taat kepada suami. Ketidaktaatan istri pada suami dapat menciptakan ketidakharmonisan di dalam rumah tangga.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
“Seandainya aku boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan kusuruh istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Suami berkewajiban mencari nafkah. Atas dasar inilah menjadikan kebanyakan suami lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sehingga sangat membutuhkan sang istri untuk mengatur rumah. Tanpa dukungan istri, sebuah rumah tangga mudah sekali tergoyahkan karena tidak ada yang mengurus rumah dan anak-anak. Di dalam islam, seorang istri sangat didorong untuk lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah dan tidak diberi kewajiban mencari nafkah agar rumah tangga yang dibangun tidak mudah tergoyah.
Coba Anda bayangkan jika sang istri ikut-ikutan sibuk mencari nafkah di luar rumah, apapun dilakukan demi uang, mengejar karier hanya demi mencari uang. Uang menjadi sesuatu yang diagung-agungkan, karier dikejar sedemikian rupa, semakin tinggi karier semakin banyak uang yang akan didapatkan. Akhirnya, suami istri berangkat kerja pagi hari dan pulang sore hari bahkan sampai larut malam. Badan capek, sepulang kerja langsung tidur, mereka asik dengan dunianya sendiri-sendiri. Siapa yang menjadi korban? Tentunya anak-anak mereka akan terlantar, kurang kasih sayang sehingga mendorong mereka untuk mencari kasih sayang di luar rumah sebagai pengganti kasih sayang di rumah yang telah hilang. Diskotek dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang kebanyakan menjadi pelampiasan mereka. Patutkah mereka disalahkan? Apakah Anda tidak malu menyalahkan mereka? Apakah Anda tidak kasihan dengan anak-anak Anda?
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab:33)
Janganlah uang dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Kebahagiaan tidak mutlak tergantung pada rumah mewah, uang berlimpah. Kebahagiaan tergantung pada hati. Menerima, menikmati dan mensyukuri yang ada itulah hakekat kebahagiaan. Biarkan sang suami yang diberikan kewajiban mencari nafkahlah yang mengurusnya, sedangkan istri mengatur rumah tangga dan anak-anak agar kebahagiaan dapat terwujudkan. Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana pasti akan mengatur segalanya.
Renungkanlah sabda Nabi SAW berikut ini :
“Orang kaya bukanlah orang yang banyak harta. Tetapi, orang kaya ialah orang yang kaya hati.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah)
Jadikanlah rumah kita sebagai istana kita untuk memperoleh kebahagiaan sejati.
Kerajaan yang dimaksud bernama rumah tangga, dipimpin seorang raja yang bernama suami dan permaisuri yang bernama istri. Kepemimpinan sang rajalah yang akan menentukan kelangsungan sebuah rumah rangga. Baik buruknya sebuah kerajaan rumah rangga akan sangat tergantung pada kepemimpinan suami dan dukungan sang istri.
Kewajiban istri haruslah taat kepada suami, tetapi bukan ketaatan yang membabi buta. Ada rambu-rambu agar suami ditaati sang istri, yaitu ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketidaktaatan istri diperbolehkan dalam islam jika suami menyuruh kepada istri tetapi bententangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist, salah satunya sang istri tidak boleh taat dalam rangka bermaksiat. Pada hakekatnya ketaatan istri bukanlah kepada suami tetapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Suami sebagai seorang raja harus memiliki harga diri dan istri harus menghormati sang raja. Seorang istri hendaknya selalu menjaga perasaan suaminya, jika ada kekurangan pada diri sang suami janganlah dibesar-besarkan. Setiap orang pastinya memiliki kelebihan dan tak luput dari kekurangan. Meskipun dengan berbagai kekurangannya kita tetap harus taat kepada suami. Ketidaktaatan istri pada suami dapat menciptakan ketidakharmonisan di dalam rumah tangga.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
“Seandainya aku boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan kusuruh istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Suami berkewajiban mencari nafkah. Atas dasar inilah menjadikan kebanyakan suami lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sehingga sangat membutuhkan sang istri untuk mengatur rumah. Tanpa dukungan istri, sebuah rumah tangga mudah sekali tergoyahkan karena tidak ada yang mengurus rumah dan anak-anak. Di dalam islam, seorang istri sangat didorong untuk lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah dan tidak diberi kewajiban mencari nafkah agar rumah tangga yang dibangun tidak mudah tergoyah.
Coba Anda bayangkan jika sang istri ikut-ikutan sibuk mencari nafkah di luar rumah, apapun dilakukan demi uang, mengejar karier hanya demi mencari uang. Uang menjadi sesuatu yang diagung-agungkan, karier dikejar sedemikian rupa, semakin tinggi karier semakin banyak uang yang akan didapatkan. Akhirnya, suami istri berangkat kerja pagi hari dan pulang sore hari bahkan sampai larut malam. Badan capek, sepulang kerja langsung tidur, mereka asik dengan dunianya sendiri-sendiri. Siapa yang menjadi korban? Tentunya anak-anak mereka akan terlantar, kurang kasih sayang sehingga mendorong mereka untuk mencari kasih sayang di luar rumah sebagai pengganti kasih sayang di rumah yang telah hilang. Diskotek dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang kebanyakan menjadi pelampiasan mereka. Patutkah mereka disalahkan? Apakah Anda tidak malu menyalahkan mereka? Apakah Anda tidak kasihan dengan anak-anak Anda?
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab:33)
Janganlah uang dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Kebahagiaan tidak mutlak tergantung pada rumah mewah, uang berlimpah. Kebahagiaan tergantung pada hati. Menerima, menikmati dan mensyukuri yang ada itulah hakekat kebahagiaan. Biarkan sang suami yang diberikan kewajiban mencari nafkahlah yang mengurusnya, sedangkan istri mengatur rumah tangga dan anak-anak agar kebahagiaan dapat terwujudkan. Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana pasti akan mengatur segalanya.
Renungkanlah sabda Nabi SAW berikut ini :
“Orang kaya bukanlah orang yang banyak harta. Tetapi, orang kaya ialah orang yang kaya hati.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah)
Jadikanlah rumah kita sebagai istana kita untuk memperoleh kebahagiaan sejati.