Laman

RUMAHKU, MASJIDKU

RUMAHKU, MASJIDKU

“...jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakan shalat serta gembirakanlah orang-orang mukmin.” (Yunus:87)

Menurut Ibnu Abbas, rumah dijadikan kiblat yaitu dengan menjadikan rumah kita sebagai masjid. Dalam sebuah riwayat, Aisyah menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. menunaikan ibadah shalat malam, ketika akan melakukan witir, beliau berkata, “Aisyah, bangunlah! Ayo shalat! Allah mengasihi orang yang bangun malam seraya menunaikan shalat, kemudian ia membangunkan istrinya untuk shalat. Dan apabila tidak mau, ia memercikkan air ke wajah istrinya.” (HR. Muslim).




Subhanallah, suatu kisah yang benar-benar menjadi tauladan. Keluarga sakinah merupakan keluarga impian setiap muslim. Bagaimana tidak! selain hidup rukun dengan keluarga juga memperoleh ketenangan jiwa. Ketentraman dan kebahagiaan dalam suatu rumah tangga memang sangat diidam-idamkan, meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkannya. Keluarga tentram dan bahagia menciptakan suasana yang menyejukkan bagi anak-anaknya. Perkembangan jiwa sang anak ikut menjadi sehat sehingga anaka-anak pun dapat tumbuh menjadi dewasa sesuai dengan tingkat pertumbuhannya, jiwa sang anak juga mengalami ketentraman. Kedamaian dan kemerdekaan sang anak tidak terbelenggu. Yang menjadi permasalahan, bagaimana cara mewujudkan keluarga impian setiap muslim tersebut?

Baiklah, di dalam ajaran Islam, seperti petikan kisah Rasullah di atas, beliau mengajak istrinya Aisyah untuk melakukan shalat malam. Di saat sedang lelap-lelapnya tidur, beliau membangunkan sang istri untuk melaksanakan ibadah penting tersebut. Bisa dibayangkan, ibadah yang dilakukan dengan pengorbanan sudah pasti akan mendapatkan balasan yang lebih dari Allah SWT. Seperti kita ketahui bahwa Allah Maha Pemurah Lagi Maha Bijaksana, pasti akan memberikan balasan yang lebih atas pengorbanan kita. Pengorbanan yang bagaimana yang dimaksud, yaitu pengorbanan saat sedang enak-enaknya tidur. Terlepas dari itu dengan menjalankan ibadah di rumah kita, maka secara otomatis menjadikan rumah kita bercahaya. Memposisikan rumah sebagai masjid akan menciptakan kesejukan hati yang sangat luar biasa, sehingga dengan begitu maka ketentraman jiwa akan tergapai dengan sendirinya. Yang artinya memberikan ketenangan bagi seluruh penghuninya. Demikian ini merupakan salah satu cara menjadikan keluarga sakinah dengan menjadikan rumah kita sebagai masjid. Karena sebuah keluarga sakinah harus dapat mencerminkan suasana penuh ketentraman, dimana ketentraman sejati itu sendiri hanya diperoleh dengan penuh kepasrahan, yaitu pasrah kepada Allah Sang Maha Pencipta.




Menurut Qatadah, seorang suami, sebagai kepala rumah tangga, harus menyuruh istri dan anak-anaknya taat kepada Allah Ta’ala dan mencegah mereka dari perbuatan kemaksiatan. Suami seyogyanya menjaga dan membantu mereka untuk senantiasa menjalankan segala yang diperintahkan Allah. Suami juga seyogyanya menjauhkan mereka dari segala bentuk kemaksiatan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;....”(at-Tahriim:6)


Ketentraman hati akan terwujud dengan ingat kepada Allah (dzikrullah), untuk itu sebagai keluarga muslim kita senantiasa harus selalu berdzikir kepada Allah. Rumah harus dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan dzikir, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, mempelajari agama, membaca buku dan lain sebagainya. Dengan menjadikan rumah kita sebagai tempat untuk beribadah (memposisikan sebagai masjid) tersebut maka suasana di dalam rumah akan menjadi sejuk, sehingga ketentraman hati akan segera datang. Dengan begitu istilah keluarga sakinah dapat segera terwujudkan, yang merupakan pencerminan dari sebuah keluarga penuh ketentraman dan kebahagiaan.

“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikrullah dan rumah yang tidak digunakan untuk dzikrullah, bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.”(HR. Muslim).